❀ Panduan Pernikahan: Tak Perlu Dipamerkan Kelebihan Pasanganmu pada Semua Orang ❀



Bismillah, 

Renungan dari seorang sahabat akhwat yang sudah menikah, mengambil hikmah dari obrolan beberapa hari yang lalu (08/12/2018) tentang keadaan memamerkan kemesraan di media sosial bagi suami-istri.

Beginilah percakapan kami:


ZEHRA: Kak, bagaimana caranya kita sebagai akhwat yang sudah hijrah atau sedang proses hijrah supaya tidak perlu memamerkan kelebihan pasangan hidup (baca: suami) ke semua orang?

ZAHRA: Mungkin bisa baca artikel ini dek di sini. Kalau kakak pribadi, selain malu juga khawatir ancaman 'ain dek.

ZEHRA: Maksudnya di link tersebut, ada kata-kata "orang lain bisa menjadikannya sebagai sumber dosa," itu bagaimana?

ZAHRA: Maksudnya menjadi sumber dosa bagi orang lain, contohnya: misalnya kakak masih single nih, terus lihat postingan seleb yang memamerkan kemesraan di sosial media. Lalu, kakak jadi baper, jadi pengen, terus mencontoh mereka bermesra-mesraan tapi bukan lewat jalur yang halal, kakak malah pacaran, zina ... naudzubillah. 

Atau bagi laki-laki misalnya, selain bisa menjadi bahan fantasi seksual (buat orang-orang normal maupun gak normal), juga bisa jadi zina mata (bagi perempuan dan laki-laki, syahwatnya senang melihat lawan jenis yang tidak halal baginya) dan zina hati (menginginkan, membayangkan, terus-menerus memikirkan lawan jenis yang tidak halal baginya) bisa dosa.

Dan untuk yang sudah berumah tangga bisa jadi membuat kufur terhadap nikmat pada apa yang sudah Allah ta'ala berikan ...

Setelah melihat pasangan lain pamer kemesraan, maka akan timbul perasaan-perasaan seperti di bawah ini:
  • Ugh, ternyata istri saya gak secantik istri dia.
  • Ugh, ternyata suami saya gak mesra, gak care, seperti suami dia.
  • Ugh, saya mau suami yang seperti itu, menyesal saya menikahi orang ini!
  • Ah, istri macam apa ini, tutur katanya tidak selembut wanita itu kepada suaminya.
Kalau yang di atas ini sepertinya merupakan implementasi dari bab menjaga pandangan. Kurang lebih sama seperti menutup aurat ya, kalau dibuka atau dipamerkan sangat berbahaya.

ZEHRA: Masyaa Allah, renungan yang begitu bermakna, kak. Semoga Allah ta'ala menjaga pandangan kita, ya.

ZAHRA: Masyaa Allah, semoga kita saling mengingatkan ya, dek.
Semua memang bermula dari mata. Saudara/i ku, mengumbar pandangan termasuk dosa yang selalu saja disepelekan. Padahal ada sebuah kaidah penting untuk selalu kita ingat: "Tidak lagi disebut dosa kecil jika (perbuatan maksiat itu) dilakukan terus-menerus [1]" Semoga Allah ta'ala menjaga kita semua.
__________
[1] Dhoiful Jaami’ no. 6308. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan pula oleh Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab dengan sanad lainnya dari Ibnu ‘Abbas namun mauquf (perkataan Ibnu ‘Abbas), periwayatnya tsiqoh (terpercaya). Riwayat ini pun munqothi’ (terputus) antara Qois bin Sa’ad (dia orang Mekkah), ia katakan bahwa Ibnu ‘Abbas berkata.

Semoga bermanfaat.
Artikel: iffahzehra.com